Asa yang Putus

Ia buka dompet untuk ketiga kalinya. Keningnya mengkerut, otaknya menghitung. Bahkan jika ia memangkas jatah makannya bulan ini, pun tak cukup untuk membayar sewa.

Inang-inang itu sekarang datang setiap hari. Dengan kalung emas bergelayutan di dadanya. Gelang emas bergemerincing. Giwang emas sebesar biji salak. Menggedor-gedor pintu tanpa ampun. Mungkin untuk gedoran yang ke seratus pintu itu akan hancur. Dan sekarang masih gedoran yang ke tujuh puluh, mungkin?

Mengingat besok akan terjadi hal yang sama. Ia hanya bisa menutup mata, dan menutup dompet. Berdoa menjadi pilihan terakhir, dari tidak adanya pilihan yang dia punya.

Tuhan itu ada kan? Hati kecilnya bergumam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s