…affair ?

Cerita mengenai masalah yang berkenaan dengan affair, cheating dan semacamnya, selalu menyayat hati saya. Bagaimana tidak, karena saya pernah menjadi korban dari masalah tersebut, sampai pada titik trauma. Berat badan turun, mata bengkak, sampai kehilangan harapan. Mungkin bisa dibilang, sampai pasrah. Padahal masih dalam lingkup pacar-pacaran, tapi rasanya sudah seperti istri yang  serta merta di khianati dengan suaminya.

Pada saat itu, bagi saya dahsyatnya rasa mabuk cinta pertama tak kunjung reda. Rasa mabuk cinta pertama itu bertahan lebih dari 5 tahun. Sampai rasa jenuh yang hinggap pun saya anggap angin lalu. Padahal dalam bercinta selalu ada kepentingan dua belah pihak. Dan saya lebih mementingkan ego saya. Tanpa memperdulikan teriakan pasangan saya di ujung sana, teriakan “saya bosan!” yang awalnya terdengar sayup-sayup sampai terdengar sangat jelas dikuping saya. Lekat sekali ditelinga saya, teriakan tersebut berubah menjadi sebuah permintaan yang berbisik sunyi. Permintaan untuk menunggu. Menunggunya bertualang mencicipi sedikit saja cinta segar yang baru dan ranum dengan wanita lain diluar dunia kami berdua. Dengan imbalan bahwa dia akan selalu menjadikan saya surga cinta sejatinya yang kekal, yang akan selalu membawanya kembali ke hati saya. Bullshit? Tidak pada saat itu. Saya memilih percaya padanya, dan ya, saya menunggunya. Sebesar itulah cinta saya untuknya pada saat itu.

Akhirnya dia menjalin cinta dengan wanita yang katanya diidam-idamkan sejak baru masuk kuliah. Harusnya seperti rasa suka yang tak mungkin sampai, tapi dengan ajaibnya wanita tersebut membalas sinyal-sinyal suka darinya di saat yang tepat. Di saat kejenuhan duduk diantara kami. Jadilah perasaan mereka terhubung dengan manisnya.

Kami rutin bertemu seperti biasa. Saya datang ke tempatnya, kita bercengkrama, berpacaran seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari sikapnya. Meski dia tidak mengumbar perilaku seperti orang yang sedang falling in love ketika di depan saya, namun dari gerak geriknya saya tahu kalau pacar saya, sedang jatuh cinta. Sesekali keluar menjauhi saya, untuk mengangkat telepon. Curi-curi kesempatan untuk membalas sms. Hal-hal kecil yang dia pikir saya tidak sadar, namun saya seratus persen sadar dan melihatnya dengan mata kepala sendiri.  Setiap hari saya hanya bisa terus mengelus dada,menahan tangis kuat-kuat dan menarik nafas dalam-dalam seperti orang kehabisan oksigen. Hati saya tersayat tipis-tipis hari demi hari. Mungkin ini rasanya dikuliti tanpa obat bius. Perih dalam keadaan sadar.

Mungkin hanya sebulan atau dua bulan, tapi pengalaman itu seperti morfin baginya. Tidak cukup satu wanita. Selagi ada kesempatan besar yang saya obral untuknya, dia melanjutkan dengan wanita lainnya. Satu, dua, mungkin lebih. Dan saya tetap menunggu. Tentu saja dengan berpegangan imbalan darinya. Cinta kronis saya ini sudah sampai pada titik merelakan-dia-bahagia meski saya menderita.

Dalam periode waktu yang bagi saya cukup lama, dia pun kembali. Itu pun setelah saya mengancamnya dengan aksi ‘mendapatkan-pria-penggantinya’. Saya tahu itu curang, tapi saya kehabisan cara untuk menyetop ketagihannya bercinta. Dan benar saja, layaknya pria rakus. Setelah mencoba sana sini, dia masih tidak mau melepaskan saya. Padahal hati yang terkikis selama menunggunya ini, tidaklah lagi utuh. Saya berpaling. Namun saya kembali padanya. Ada kalimat, ‘bisa karena terbiasa’. Saya bisa hidup sempurna karena terbiasa akan kehadirannya. Meski sebagian hati saya hampir kosong, saya tetap kembali. Dan ternyata saya kembali dengan perasaan yang jauh berbeda untuknya. Saya tidak antisipasi untuk perasaan berbeda yang aneh tersebut.

Ketika kami kembali dan menjalani hari-hari baru lembaran baru, setelah melewati proses permintaan maaf dan sebagainya, saya semakin sadar kalau hati yang hampir kosong itu semakin kering. Disaat dia sibuk dengan hobinya, sampai-sampai dia memberikan status break tidak lama dari lembaran baru kami, saya tersadar bahwa saya ternyata sudah bisa berhubungan dengan pria lain. Titik balik yang saya tunggu-tunggu pun datang.

Tiap doa yang saya panjatkan ketika hati saya tersayat ternyata dikabulkan. Berangsur-angsur rasa cinta yang terlampau besar itu hilang. Sampai perasaan itu benar-benar bersih dari diri saya dengan ajaibnya. Siapa yang menyangka bisa hilang. Saya saja masih tidak percaya sampai detik ini.

Oleh karena itu, sekarang jika saya harus mendengar cerita mengenai affair, poligami atau apalah itu, hati saya kadang seperti tercubit, teringat pengalaman saya dulu. Sebagai korban yang kena deritanya. Yang namanya menggandakan cinta adalah bukan cinta namanya. Jika jenuh atau hambar datang, bukan alasan untuk selingkuh. Komunikasi adalah kuncinya. Lebih baik jujur yang menyakitkan daripada white lie yang enak didengar tetapi jauh lebih menyakitkan ketika semua terungkap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s