Melati

Ia mendongak keatas, matanya menatap lurus ke bulan, blue moon tahun ini terlihat lebih misterius dari sebelumnya. Bambu-bambu bergemerisik menari lincah dengan angin malam. Suara jangkrik seperti hilang ditelan bumi, mereka bersembunyi. Mengintip dibalik dedaunan dengan perasaan terancam.

Tangan itu menggapai langit. Memorinya beringsut mundur jauh ke tahun di masa kejayaannya. Hingar bingar kehidupan malam. Senyata-nyatanya hidup adalah ketika ia bisa menggapai apa saja yang dia inginkan. Uang seperti air sumur yang tak kunjung kering, tawa bagai nafas yang dihembuskan tiap detik. Bibirnya tak pernah mengatup untuk bermuram durja. Bahagia, bahagia, bahagia. Adalah rasa yang ia pikir tak berujung. Pada saat itu.

Hap, ia hanya menangkap sehelai daun bambu kering yang jatuh dan diremasnya menjadi serpihan. Ia meneteskan air mata yang tak lagi terasa ada. Namun tangan kanannya masih dengan jelas, merasakan lengan kemeja tiap pria yang ditariknya dahulu. Indera penciumannya pun masih hafal bau minyak wangi mahal, dan minuman-minuman beralkohol yang menyertainya. Tak ketinggalan minyak jimat yang didapatnya dulu dari hasil berdukun, berbau melati bercampur kemenyan. Dan dia siap menjadi primadona yang lebih laku di antara kupu-kupu lainnya.

Andai saja dia terus mencurangi Tuhan. Kembali ke gunung keramat meminta keselamatan dari pesugihan rutinnya. Kecelakaan mengerikan itu pasti tidak terjadi. Penyesalan tersebut terus menggerogoti otak warasnya seperti belatung yang tumbuh subur dalam sampah. Hingga otaknya kosong blong tak tersisa apapun, kecuali beberapa cuil memori, dan belatung besar yang kenyang memakan kewarasannya.

“ melati, ayo nak masuk ke dalam.”

Sang ibu mendorong kursi roda anaknya yang terduduk tak berdaya tanpa akal dan kedua kaki dengan hati-hati. Ya, ia sekarang hanya berbadan sampai lutut, juga dinyatakan kelainan jiwa. Sisa kaki indahnya yang jenjang dan dibanggakan hancur diantara rel kereta. Kecelakaan besar yang merenggut ratusan nyawa. Jika saja ia waras, mungkin ia dapat berpikir bahwa Tuhan masih memberinya waktu untuk bertobat dan menebus dosa.

Tapi nyatanya, ia lebih memilih hidup dalam cuilan sisa-sisa memori bahagianya. Tuhan bilang, ya sudahlah….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s