Pangeran Kertas

Pangeran Kertas by Syahmedi Dean
Pangeran Kertas by Syahmedi Dean

Saya suka fiksi. Saat melihat berderet-deret novel fiksi, saya seperti melihat berderet-deret dunia yang beragam macam. Tidak sabar menjadi orang ketiga yang siap membaca perjalanan mereka. Ya, seperti pecinta film melihat berderet-deret judul lah rasanya. Ngiler dan bikin penasaran.

Tapi sayangnya tidak semua fiksi saya suka. Sekilas saja melihat gaya bahasa dan gaya berceritanya yang tidak lebih pintar dari saya, maka lekas saya taruh kembali di rak. Maaf, bukannya belagu tapi terlepas dari mata pelajaran wajib, saya ini tidak mengambil kelas bahasa ketika SMA atau pun kuliah. Saya malah mengambil les bahasa Inggris (karena dipaksa bapak) dan bahasa Perancis (karena penasaran). Jadi, belajar bahasa Indonesia ya saya dapat dari novel dan buku yang saya baca sejak SD. Kalau kata eyang saya yang dulu fasih bahasa Belanda tapi memilih untuk menjadi guru bahasa Inggris ketika ditanya teman bulenya, ‘where did you learn your English?’ dia pun menjawab ‘I pick it up from the street’. Maksudnya ya belajar seiring berjalannya waktu. Pick it up dari media mana pun yang bisa dia serap. Bahkan saya dilimpahkan novel Gone with The Wind terbitan pertama yang jujur saja, tidak habis-habis saya baca. Karena masih menggunakan bahasa Old English yang indah tapi puyeng bacanya.

Anyway, selain Haruki Murakami, Dee Lestari dan novelis favorit saya lainnya, Syahmedi Dean termasuk salah satunya. Untuk pembaca yang moderat, pasti jarang yang tahu. Contohnya ketika saya sedang di- interview dan ditanya siapa penulis favorit saya, kemudian saya jawab Syahmedi Dean. Mereka akan berpikir semenit, mengangguk lalu lanjut ke pertanyaan berikutnya.

Setelah tetralogi fashion yang berisi A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Teh) dan kawan-kawan, saya menemukan buku Syahmedi Dean berjudul Pangeran Kertas. Karena sudah kangen, lama tidak membaca karyanya, Tanpa lihat sinopsisnya langsung saja saya bawa ke kasir. Sempat kaget ketika baca bab 1. Duh, kok kaya novel picisan ABG. Cerita tentang anak sepasangan artis yang galau karena ayahnya yang artis dan ibunya yang temperamental mau cerai. Oke, mungkin mas Syahmedi bosan dengan keribetan dunia anak dewasa jadi dia ambil dari sudut kerapuhan ABG. Saya pun lanjut membaca, dan ternyata saya tidak perlu pembatas buku karena hari itu juga saya lahap habis bukunya. SERU BANGET. Iya, pakai ‘banget’.

Pangeran Kertas karya Syahmedi Dean ini bertabur puisi, kalimat-kalimat indah di tengah serunya perjuangan seorang wanita demi bertemu cinta sejatinya sampai Taj Mahal, India. Ending-nya pun sampai sekarang masih bikin saya geleng kepala. Top banget deh Syahmedi Dean. Oh, satu percakapan yang saya quote dari banyak obrolan indah di bukunya:

“… Kamu harus percaya, segala sesuatu akan terjadi dua kali. Pertama di dalam imajinasi, kedua di dalam kenyataan. Kamu tidak akan mengalami apa-apa kalau imajinasimu buram dan tidak mengkhayalkan apa-apa. Gunakan imajinasimu sekuat mungkin dan penuh perasaan, seolah-olah dia nyata dalam pikiran. Kemudian dia akan terjadi sekali lagi di alam kenyataan.”

“Berapa lama jarak waktu antara impian dan kenyataan?”

“Waktu, lama atau sebentar, hanyalah ilusi. Jarak antara impian dan kenyataan adalah waktu yang tersedia untuk mempersiapkan diri. Senjatanya adalah sabar…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s