Mind to share a heart?

Baru-baru ini ada kejadian yang cukup mencengangkan di kehidupan saya, well, sebenarnya kehidupan orang lain di sekitar saya sih. Berkenaan masalah kelamin, rumah tangga dan wanita. Ketiga materi itu menjadi satu dan membentuk bom waktu. Kebayang kan sehebat apa ledakannya ketika waktu menunjukan 00.00.00?

Nggak, saya nggak mau bergosip yang sudah lalu. Toh sudah hancur juga, hanya waktu lagi yang bisa mengembalikan semuanya. Waktu yang menghancurkan, waktu yang memperbaiki. Tapi saya selalu mendoakan mereka yang terbaik kok.

Anyway, saya malah penasaran, kalau memang setiap lelaki harus mengalami pubertas kedua yang konon biasa terjadi setelah menikah, lalu bagaimana dengan wanita? Nangis di pojokan menunggu minta ditalak? Atau berbesar hati, menunggu masa puber sang suami sampai benar-benar selesai? Terus kalau nggak selesai, poligami? What do you expect from us, guys? Seriously.

Kalau sudah urusan ‘relationship’ begini saya bisa langsung berubah jadi power ranger pink berjiwa feminis ekstrim. Ketimbang diselingkuhi dengan embel-embel “puber kedua” mending udahan saja. Nothing will ever be the same anyway.

Ya, saya memang belum menikah dan belum tahu sesusah apa membina rumah tangga, tapi rasanya kalau sudah menyinggung ranah loyalitas dan kepercayaan saya yakin nggak ada wanita yang rela dipoligami, secinta-cintanya dia sama suami. Di luar imbalan pahala dan surga (dalam Islam) saya yakin nggak ada yang ikhlas.

Setiap hubungan pasti akan sampai ke titik jenuh, apalagi ketika kita memutuskan untuk tinggal bersama satu orang yang sama hingga ajal menjemput. Pasti akan banyaaaak sekali improvisasi dan siasat-siasat yang harus dilakukan dari kedua belah pihak agar hubungan mereka tetap hidup. Komunikasi yang baik hanya salah satu siasatnya. Sedangkan untuk menjalankan komunikasi di saat Anda dan pasangan sudah saling mengenal luar dalam, saya yakin susahnya luar biasa dan ada saja halangannya. Gengsi, malas, sibuk, sudah terbiasa dan berjuta alasan lainnya yang muncul ketika Anda berniat memulai komunikasi lebih dulu.

Somehow, saya percaya puber kedua itu nggak ada (meski di dunia kedokteran ada yang namanya Andropause, menopausenya para lelaki). Saya percaya itu adalah sugesti yang menghalalkan sebuah kebosanan. Jadi, tolong usahalah. Jangan buat kata ‘jodoh’ menjadi pahit, padahal dulu sangat ditunggu-tunggu. Jangan hancurkan yang sudah ada demi kesenangan semu sejenak. Dan ingat, karma does exist. Entah anak Anda, cucu, cicit atau keturunan ke tujuh cicit Anda pasti akan mengalami sakitnya dikhianati. Mungkin Anda sekarang menikmati senangnya, bisa jadi mereka kena ketulah lebih buruk dari yang Anda pernah bayangkan. Tega?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s